Jumat, 31 Agustus 2012

Cerpen yg Masuk 50 Besar (doang)


KISAH HIDUP GADIS SHALEHA

“klek..klek!” Bunyi kuncian pintu rumah mengagetkanku dan Bi Sum yang telah terlelap. Bi Sum yang cekatan langsung bangun dan langsung menuju ruang tamu dengan perasaan takut. Aku tetap di kamar yang tentunya sudah bangun, aku segera mengunci kamar. Tiba – tiba terdengar suara teriakan Bi Sum “non.. nyonya non yang pulang!! Nyonya pingsan non!!!” yah sudah aku duga pasti mama, tak ku indahkan suara teriakan Bi Sum bagai raungan macan. Mama yang selalu pulang jam 2 pagi dan slalu mabuk, aku tahu semua ini saat aku sholat tahajud jam 2 malam. Dan mama tidak sadar
aku slalu mengetahui kepulangan mama, begitu pula Bi Sum pembantu yang setia menemaniku dari aku kecil hingga dewasa sekarang tidak tahu menahu tentang prilaku mama.
“gotong sendiri ke kamar aja Bi, aku mau sholat tahajud dulu!!” teriaku yang ogah-ogahan. “ya non Bibi gak kuat.” Tak kuhiraukan teriakan bibi, aku langsung melenggang masuk kamar mandi sembari mengambil wudhu.
*
Seperti biasa subuh-subuh aku sudah bangun, setelah sholat aku bantu-bantu Bi Sum yang lagi siram menyiram bunga. “Bi.. mama udah bangun?” tanyaku memecah keheningan. “belum tuh non, mungkin Nyonya kecapekan ” aku hanya bisa ber-“Oh” mendengar penjelasan bibi. “mama sih gak kecapekan Bi!! Emang tuh orang lagi mabuk” runtuku dalam hati. Setelah aku membantu Bi Sum aku ingin membantu beliau memasak mumpung lagi libur sekolah barang kali juga aku bisa belajar memasak, masakan bibi kan selalu enak beda dengan mama yang tidak pernah masak untuk. Saat menuju ke dapur aku melihat pintu kamar mama yang terbuka “mungkin bibi lupa menutup pintunya” batinku. Aku berjalan ke kamar mama dan melihat mama tertidur pulas seperti bayi, ingin aku membangunkan dan mengajak makan bersama. Aku menuju pinggiran kamar tidur mama dan akan membelai rambutnya yang indah tapi seketika gerakanku terhenti dan ingat semua perilaku buruk mama setelah ditinggal papa meninggal dunia, semua terbayang-bayang jelas! Saat mama pulang dengan keadaan mabuk, mama yang menyulut rokok pada malam hari, dan saat mama pulang diantar lelaki lain saat keadaan mabuk! Rasa sayangku seakan-akan lenyap hilang ditelan bumi, semua berganti dengan rasa amarah dan sedih! Langsung ku urungkan niatku aku berlari menuju dapur dan mebanting pintu kamar mama. “JEDUAAARR” Bibi kaget, dan melihat dengan mimik muka bingung. “kenapa non? Non kok jadi aneh?” Tanya bibi dengan suara lembut yang bisa langsung menggantikan perasaan kacauku menjadi lebih tenang. Aku hanya diam dan menunduk “non sitaaa..” aku menatap Bi Sum dengan senyuman dan baru aku ingin menjawab tiba-tiba muncul suara mama “Sitaa!! Apa-apaan sih kamu jedar jedor pintu mama, apa kamu gak liat mama capek habis kerja butuh istirahat. Dasar anak gatau diri!!” aku hanya menatap mama sekilas dengan tatapan tajam “astagfirllah ya Allah,dosa apakah hamba. Ampuni semua dosa mama hamba ya Allah. Sita sayang sama mama, paa.. mama paa” tangisku dalam hati. Buru-buru aku menghampiri Bi Sum yang tidak mau ikut campur urusanku dan mama. Mama yang tidak kuhiraukan langsung melenggang pergi menuju kamar dengan mendengus kesal.
*
Keesokanya di madrasah rasa kesalku kepada mama sedikit reda karna terhibur dengan semua tingkah sahabat-sahabatku yaitu Maya, Pingky, Yuni, dan Firda. Mereka berempat sahabat karibku dari madrasah SD sampai di Madrasah Aliyah Negeri sekarang dan anehnya kami berempat selalu satu kelas.
*
Di rumah tepat pukul 8 pagi mama baru saja bangun dari mimpi indahnya mama langsung menuju dapur untuk mengambil sarapan. “Sita mana Bi? Uda bangun?” “sampun nyonya, daritadi subuh non sita sudah bangun. Sempet ngaji juga kok nyonya” jawab bibi sambil mencuci piring di dapur. “Sita udah berangkat sekolah?” Tanya mama dengan santainya tanpa sadar jam berapa sekarang. “nggeh sampun nyonya daritadi malah, sekarang toh sudah jam 8 nyonya” mendengar jawaban bibi mama menengok ke arah jam “benar saja sudah jam 8” batin mama dalam hati dan menarik nafas panjang. “kenapa Sita gak pamit saya Bi? Kurang ajar anak itu. Sita sekolah dimana Bi?” mendengar pertanyaan mama Bi Sum pun melotot saking kagetnya “ibu sendiri kok gak tahu anaknya sekolah dimana, kepriben toh.” Dumel bibi di dalam hati dan menengok ke arah sang Nyonya yang santai dengan pertanyaan tersebut. “Bi..” tegur mama yang merasa canggung dengan perilaku bibi. “eh .. iya nyonya. Non Sita sekolah di madrasah aliyah negeri. Sekolah islam nyonya.” Mendengar jawaban bibi mama seperti mendapat tamparan keras. “anak itu, sudah ku suruh jadi model dan gak usah pakek-pakek jilbab dan belajar agama gitu masih saja nekat” dengus mama pelan agar Bi Sum tak mendengar. Seketika napsu makan mama hilang dan tanpa ba-bi-bu mama menuju kamar dan bersiap-siap pergi ke diskotik walaupun masih pagi untuk menghilangkan rasa setresnya. Bi Sum hanya bengong dengan prilaku Nyonya-nya.
*
Sepulang sekolah aku mendapati mama yang telah duduk di sofa ruang tamu, “sepertinya mama sedang menungguku” batinku gembira, saku senang mama mulai perhatian padaku. Aku langsung duduk di sofa dan tiba-tiba saja mama menamparku! “apa-apan sih ma!” teriaku kesal sampai mengejutkan Bi Sum yang sedang menyapu tak jauh dari ruang tamu. Mama tak kalah teriakanya denganku “kamu yang apa-apaan! Anak gatau diuntung, sama saja seperti papamu!” dengan tatapan kesal aku tetap menjaga emosiku karna mama tetaplah mamaku, dengan suara yang sedikit melunak aku mulai menanggapi perkataan mama “apasih maksut mama, sita gak ngerti ma”. “kamu kenapa sekolah di MAN? Mama kan gak suka kalo kamu pakek belajar agama yang gak mutu begitu, persis seperti papamu. Sekarang kamu lihat papamu, apakah dia sukses dengan belajar agama yang gak jelas? Gak kan justru dia mati dan makin nambah susah hidup kita!!! Denger kamu Sita?” badanku serasa gak bisa digerakin, telingaku panas mendengar semua ucapan mama. Aku gak nyangka mama bisa ngomong seperti itu, emosiku pun meluap kembali “mama ngerasa agam gak penting? Agama lebih dari segalanya maa!! Allah yang mengatur jalan kita. Kita di dunia cuma sementara ma sedangkan besok kita diakhirat bakal kekal di sana! Mama tau gak sih apa yang dilakukan mama sekarang? Semua itu dosa besar ma.. apa mama gak pernah mikir kayak gitu? Mama uda siap mempertanggung jawabkan semua kesalahan mama sama Allah? Mama siap masuk neraka? Bentar lagi kita mau puasa ma, sucikan hati di bulan yang suci. Terserah apa kata mama, Sita gak bakalan nurut sama mama!” setelah puas bicara panjang lebar aku pun lari ke kamar dengan perasaan marah dan salah telah membentak-bentak mama. Di kamar aku gak tau harus ngapain, aku istighfar di dalam hati memohon ampunan kepada Allah. Aku segera mengambil wudhu untuk menjalankan sholat dhuhur. Benar juga setelah sholat dhuhur perasaanku sedikit lega.
*
Mama Sita merenung di kamar, seharian beliau tidak keluar kamar. “benar kata Sita, selama ini aku berbuat dosa” dengan suara terisak-isak mama mengucapkan dua kalimat syahadat dan mulai taubat kepada Allah. Beliau sadar selama ini  melakukan banyak kesalahan.
*
Saat di ruang makan ..
“Sita trimakasih saran kamu, mama sekarang sudah taubat. Maafin mama ya nak” mama memeluku, baru kali ini saat papa meninggal mama memeluku. Tapi dengan nada acuh aku melepaskan pelukan mama “oh ya ma? Syukur deh” aku melenggang dengan santainya menuju kamar. “Sita kenapa Bi?” Tanya mama pada Bi Sum tapi Bi Sum hanya bisa menjawab dengan mengangkat bahu.
*
Malam jam 2, aku bangun untuk sholat tahajud. Saat wudlu aku kaget melihat kamar mama yang masih terang, lampunya masih nyala! Aku pengen tau, apakah mama belum tidur? Di balik pintu aku melihat mama sedang sholat tahajud, perasaanku senang melihat mama benar-benar sudah berubah. Tapi sakit hatiku dengan prilaku mama, masih ada!
*
Pagi-pagi aku sudah berangkat ke sekolah, aku lupa pamit sama mama yang keliatanya masih tertidur pulas. Pagi ini aku ada acara sama keempat sahabatku untuk mengerjakan tugas kimia. Sampai saat pelajaran agama kesukaanku membahas BAB hormat kepada orangtua tiba-tiba ada telfon, telfon dari nomer rumah! Aku mengangkat “halo assalamualaikum” “ha apa Bi? Mama kecelakaan? Gabisa diselamatkan?” telfon ditutup aku menangis sejadi-jadinya. Maya sahabatku yang mulutnya asal nyeplos langsung izin untuk mengantarku ke rumah sakit yang merawat jenazah mama. Aku cerita panjang lebar kepada keempat sahabatku dengan tangis yang terus keluar. Aku masih tidak percaya!
*
Sesampainya di rumah sakit aku bertemu Bi Sum, Bi Sum menceritakan semua kejadianya kepadaku “tadi nyonya pamit mau njemput non Sita, katanya mau nunjukin ke non Sita kalo nyonya sudah bisa pakai kerudung dan mau ngajak non Sita beli baju muslim, gak tahunya nyonya tabrakan sama mobil sedan non.” Mendengar penjelasan Bi Sum tangisku makin deras sahabatku dan Bi Sum menenangkanku “aku bersalah, Sita kamu memang bajingan!” runtuku dalam hati. Aku diizinkan dokter untuk melihat jenazah mama, yah disitu aku melihat mama sedang tertidur pulas dengan wajah pucat dan KAKU!! Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan mama. Yah pelukan terakhirku dengan mama, saat kita sedang bertengkar. “Maaaa.. maafin Sita ma. Mama bangun!!!” aku menjerit dan mengguncang-guncang badan mama. Melihat kondisiku, keempat sahabatku dan Bi Sum datang untuk menenangkanku. AKU MASIH BELUM TERIMA YA ALLAH!
*
Jenazah mama di makamkan di pemakaman umum sekitar desaku. Aku masih menangis seakan-akan air gak mau berhenti. “sabar non, istighfar nyebut non. Biar nyonya tenang” suara Bi Sum mengendalikan tangisku, aku berhenti menangis dan istighfar dalam hati dan berdoa. “aku ikhlaskan mamaku ya Allah, terima dia di sisi-Mu, ampuni segala kesalahanya”. Setelah semua warga pulang, Bi Sum aku suruh untuk meninggalkanku di makam bersama keempat sahabatku. Sembari memegang batu nisan mama aku berkata “maa.. maafin semua kesalahan Sita ya ma, Sita gak bisa jadi model ma karna Sita gak berbakat tapi yakin Sita bakal ngebahagiaan mama. Sita bakal sukses maa, tenang ya ma di surga bersama papa. Sita sayang kalian berdua” setelah mengucapkan kata-kata terakhir untuk mama aku memandang keempat sahabatku yang juga berlinangan air mata. “yuk kita pulang” ajaku memecah keheningan. “beneran Sit uda mau pulang?” yuni bertanya untuk memastikan. Aku menjawab itu semua dengan anggukan mantap. Aku gak kuat untuk berkata-kata lagi, semua kuserahkan kepada Allah. Aku percaya Allah Maha Adil dan mendengar semua doa umatnya.
*
“Sita maafin mama juga ya nak, mama bangga sama kamu. Sampai kapanpun mama selalu memaafkanmu dan saying sama kamu.” Aku terbangun, dalam mimpiku aku melihat mama bergandengan dengan papa berjalan di surga. Aku melihat jam, sudah jam 3 pagi! Aku segera sholat tahajud dan mengaji untuk kedua orang tuaku.
**

0 komentar:

Posting Komentar