Knowledge Capture
Dalam Penangkapan pengetahuan kita harus menangkap
kedua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan tacit yang baru ditangkap atau
diperoleh, dan pengetahuan eksplisit yang telah ada diatur atau diberi kode.
Menurut Nonaka (2004 dalam Kurniawati) ada dua tipe pengetahuan dalam diri
manusia yaitu pengetahuan tacit (tacit knowledge) dan pengetahuan eksplisit
(explicit knowledge). Polanyi (1966 dalam Kurniawati) pengetahuan tacit
memiliki beberapa sifat antara lain yaitu; 1) tidak dapat dibagi 2) merupakan
hal yang lebih banyak diketahui daripada disampaikan 3) seringkali terdiri dari
kebiasaan-kebiasaan dan budaya yang tidak dapat ditentukan sendiri 4) tidak
dapat dikodifikasi, hanya dapat dipidahkan atau diperoleh melalui pengalaman 5)
menggambarkan fakta (know what) dan sains (know why) 6) melibatkan pembelajaran
skill 7) terbentuk dalam kelompok dan hubungan organisasional, asumsi, nilai
inti, keyakinan, sulit didefinisikan, disimpan, dihitung, dan dipetakan.
Groff dan Jones (1999 dalam Kurniawati) pengetahuan
tacid pada diri perorangan menyatu dengan pengalaman individu tersebut dan
tidak ada wujudnya kemudian ditambahkan lagi oleh Malhotara (2005 dalam
Kurniawati)
pengetahuan tacit tentang bagaimana atau cara yang ada dalam pikiran atau benak manusia berkaitan dengan mengenali, membagi, menghasilkan dan mengatur sesuatu. Tacit Knowledge dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang tidak mudah untuk digambarkan dan dibagikan, pada pengetahuan ini berupa suatu pengalaman dan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing individu dimana pengetahuan tersebut belum terdokumentasikan, pengetahuan ini didapatkan atau berkembang melalui interaksi dan komunikasi dengan orang lain (Darudiato, 2013). Berdasarkan pengertian dari para ahli, penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan tacit (tacit knowledge) merupakan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman, kebiasaan, keyakikanan, dan budaya yang tidak mudah untuk digambarkan dan dibagikan serta diindetifikasi maupun disimpan yang dimiliki oleh pribadi atau kelompok tentang suatu fakta serta sains.
pengetahuan tacit tentang bagaimana atau cara yang ada dalam pikiran atau benak manusia berkaitan dengan mengenali, membagi, menghasilkan dan mengatur sesuatu. Tacit Knowledge dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang tidak mudah untuk digambarkan dan dibagikan, pada pengetahuan ini berupa suatu pengalaman dan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing individu dimana pengetahuan tersebut belum terdokumentasikan, pengetahuan ini didapatkan atau berkembang melalui interaksi dan komunikasi dengan orang lain (Darudiato, 2013). Berdasarkan pengertian dari para ahli, penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan tacit (tacit knowledge) merupakan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman, kebiasaan, keyakikanan, dan budaya yang tidak mudah untuk digambarkan dan dibagikan serta diindetifikasi maupun disimpan yang dimiliki oleh pribadi atau kelompok tentang suatu fakta serta sains.
Terdapat
metode-metode yang digunakan dalam menangkap pengetahuan tacit, diantaranya : Wawancara
ahli, Cerita, Learning by told, Learning by observation. Selain itu terdapat
pula metode lain yakni :
• Sesi
ad hoc : cara memobilisasi komunitas praktik atau jaringan profesional informal
secara cepat untuk meminta bantuan anggota. Ini biasanya sesi brainstorming
tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlangsung sebagai pertemuan antar muka
atau menggunakan teknologi seperti pesan instan, email, telekonferensi, dan
ruang obrolan.
• Road
map : lebih bersifat formal, peta jalan cenderung difasilitasi pertemuan
penyelesaian masalah yang dijadwalkan, diselenggarakan, dan mengikuti agenda.
Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah sehari-hari di forum publik, yang
sering mengarah pada pengembangan pedoman dan bahkan standar untuk perbaikan
proses yang berkelanjutan dalam perusahaan.
• Sejarah
belajar : cara yang sangat berguna untuk menangkap pengetahuan tacit, terutama
dalam pengaturan kelompok. Mereka mewakili sejarah retrospektif peristiwa
penting yang terjadi di masa lalu organisasi, seperti yang dijelaskan dalam
suara orang-orang yang mengambil bagian di dalamnya. Proses pembelajaran
sejarah terdiri dari (1) perencanaan, (2) wawancara reflektif, (3) distilasi,
(4) penulisan, (5) validasi, dan (6) diseminasi.
• Pembelajaran
aksi : didasarkan pada kenyataan bahwa orang cenderung belajar sambil
melakukan. Kelompok kecil dapat dibentuk dengan peserta yang memiliki masalah,
tujuan, atau kebutuhan belajar yang sama. Mereka dapat bertemu secara teratur,
melaporkan kemajuan, bertukar pikiran tentang alternatif, mencoba hal-hal baru,
dan mengevaluasi hasilnya. Ini adalah bentuk kerja kelompok yang berorientasi
pada tugas dan pembelajaran yang cocok untuk bidang-bidang yang sempit dan
khusus serta masalah-masalah khusus.
• Solusi
E-learning : biasanya melibatkan menangkap pengetahuan prosedural yang berharga
dan mendokumentasikan sejarah semua perubahan prosedural, bersama dengan
penjelasan atau justifikasi untuk perubahan yang dibuat (George dan Kolbasuk,
2003). Dengan cara ini, utas sejarah dipertahankan, dan konteks di mana
perubahan dianggap perlu tidak hilang. Selain repositori untuk pengetahuan
seperti itu, proses perlu ditetapkan dimana karyawan yang berencana untuk pergi
memiliki waktu dan dukungan yang diperlukan untuk mengatur dan menyimpan bahan
referensi mereka, pengalaman prosedural yang terakumulasi selama
bertahun-tahun, dan pengetahuan berharga untuk menguntungkan orang lain di masa
depan.
Sedangkan pengambilan pengetahuan di dalam organisasi
yang lebih makro, pendekatan yang baik
diusulkan oleh Malhotra (2000), yang menguraikan empat proses utama perolehan
pengetahuan organisasi: (1) okulasi, (2) pembelajaran pengganti, (3)
pembelajaran pengalaman, dan (4) proses inferensial.

0 komentar:
Posting Komentar